EKONOMI BERDIKARI


 EKONOMI BERDIKARI

Menurut Redaktur Prisma, Associate LP3ES Fachru Nofrian, konsep ekonomi berdikari sudah dijalankan saat masa peralihan pemerintahan Hindia Belanda menuju Indonesia oleh Bung Karno. Menurut dia, ekonomi berdikari yang digagas Bung Karno saat itu dengan adanya Program Benten yang berjalan sejak 1950 hingga 1957. Tujuannya saat itu dengan membangun kewirausahaan masyarakat pribumi.

Meski tak berjalan, Bung Karno tak tinggal diam demi perbaikan ekonomi rakyat. Bung Karno kemudian menggagas Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PNSB) yang dirumuskan pada 1959 dan dijalankan pada 1961 hingga 1968. Pasalnya, Bung Karno saat itu berani menutup beberapa sektor untuk dikembangkan tanpa campur tangan asing (*beberapa bukan semua sektor). Tujuannya adalah membangun keadilan ekonomi sosial yang berbasis pada solidaritas, gotong royong.

Dari acuan diatas, konsep Berdikari bermaksud menumbuh kembangkan sumber daya yang berbasis pada otonomi, solidaritas dan gotong royong, bukan menutup atau memblok ruang-ruang Kerjasama/donasi/kolaborasi dan lain sebagainya, yang dimana bertujuan menginisiasi peningkatan kualitas SDM yang dimiliki.

Karena banyak potensi ekonomi yang bisa ditingkatkan dalam kolektif melalui sisi-sisi ekonomi alternatif yang lain disamping berjalannya penerapan Ekonomi Berdikari.


Pengenalan: Potensi Peningkatan Ekonomi Melalui Activity

Activity merupakan salah satu ruang/tim kerja yang memiliki potensi besar dalam menghasilkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya Activity, sebuah kolektif dapat menarik animo baik dari dalam maupun luar kolektif untuk mendatangi kegiatan-kegiatan yang dimiliki. Potensi ekonomi yang dihasilkan melalui ruang/tim kerja Activity sangatlah besar, mulai dari pendapatan yang diperoleh dari animo, peningkatan donasi/sponsorship, hingga peningkatan sdm.


Activity Sebagai Ruang/tim kerja penunjang Ekonomi yang Potensial

Activity menjadi ruang/tim kerja penunjang ekonomi yang potensial karena memiliki beberapa faktor pendukung. Pertama, Activity dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu kolektif. Dalam beberapa kolektif, ruang/tim kerja Activity telah menjadi salah satu ruang/tim kerja yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Arus Kas Kolektif.

Selain itu, pertumbuhan engagement Activity juga dapat menciptakan ruang belajar yang efektif. Dalam konteks Activity, terdapat berbagai jenis kegiatan yang ada, mulai dari event, nobar, merchandise, dan lain sebagainya. Dengan adanya engagement seperti itu, animo crew akan meningkat dan pendapatan kolektif dapat meningkat.

Dampak Positif Engagement Activity Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kolektif

Engagement Activity memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu kolektif. Pertama, Activity dapat meningkatkan pendapatan kolektif contoh melalui tiket yang dikenakan pada kegitan-kegiatan yang diberikan. Tiketing ini dapat digunakan oleh kolektif untuk membiayai Pembangunan, pengadaan dan program-program sektor lainnya dalam kolektif.

Selain itu, Activity juga dapat meningkatkan investasi di suatu kolektif. Dengan adanya Kegiatan Activity yang berkembang, Sponsor akan tertarik untuk mensupport di ruang/tim kerja Activity, seperti pelaksanaan event, collaboration product, dsb. Support ini akan membawa manfaat bagi perekonomian suatu kolektif, baik dalam hal peningkatan pendapatan maupun peningkatan lapangan kerja.

Juga dapat menjadi Langkah penebaran virus pengajakan (dalam hal ini mengajak untuk mendukung Tim Kebanggaan), serta sebagai peningkatan kualitas kolektif lewat Kolektif Branding yang lebih baik.

Comments

Popular posts from this blog

KOLEKTIFITAS